detiknews, bbcnews, cnn

Selasa, 07 Februari 2012

Ramalan Rongowarsito - SERAT JOKO LODANG -

SERAT JOKO LODANG

RONGeh jleg tumiBA;
GAgaran SantoSA;
SIkara KaroDA;
TAtage tan kaTON;
BArang-barang ngeRong;
SAguh tanpa raGA
KAtali kawaWAR
DAdal amekaSI
TONda murang taTA.



Gambuh

1. Jaka Lodang gumandul;
Praptaningpang ngethengkrang sru muwus;
Eling-eling pasthi karsaning Hyang Widhi;
Gunung mendhak jurang mbrenjul;
Ingusir praja prang kasor;

2. Nanging awya kaliru;
Sumurupa kanda kang tinamtu;
Nadyan mendak mendaking gunung wus pasti;
Maksih katon tabetipun;
Beda lawan jurang gesong;

3. Nadyan bisa mbarenjul;
Tanpa tawing enggal jugugipun;
Kalakoni karsaning Hyang wus pinasti;
Yen ngidak sangkalanipun;
Sirna tata estining wong.

Sinom

1. Sasedyane tanpa dadya;
Sacipta-cipta tan polih;
Kang reraton-raton rantas;
Mrih luhur asor pinanggih
Bebendhu gung nekani;
Kongas ing kanistanipun;
Wong agung nis gungira;
Sudireng wirang jrih lalis;
Ingkang cilik tan tolih ring cilikira;

2. Wong alim-alim pulasan;
Jnaba putih njero kuning;
Ngulama mangsah maksiat;
Madat madon minum main;
Kaji-kaji ambanting;
Dulban kethu putih mamprung;
Wadon nir wadonira;
Prabaweng salaka rukmi;
Kabeh-kabeh mung marono tingaliro;

3. Para sudagar ingargya;
Jroning jaman keneng sarik;
Marmane saisiningrat;
Sangsarane saya mencit;
Nir sad estining urip;
Iku ta sengkalanipun;
Pantoging nandang sudra;
Yen wus tobat tanpa mosik;
Sru nalangsa narimo ngandel ing suksma.

Megatruh

1. Mbok Parawan sangga wang duhkiteng kalbu;
Jaka Lodhang nabda malih;
Nanging ana marmanipun;
Ing weca kang wus pinesthi;
Estinen murih kelakon;

2. Sangkalane maksih nunggal jamanipun;
Neng sajroning madya akir;
Wiku Sapta ngesthi Ratu;
Adil parimarmeng dasih;
Ing kono karsaning manom;

3. Tinemune wong ngantuk anemu kethuk;
Malenuk samargi-margi;
Marmane bungah kang nemu;
Marga jroning kethuk isi
Kencana sesotya abyor;

Terjemahan Bebas:

Dengan gerak yang genit tiba-tiba muncul (mungkin yang dimaksud kedatangan peranan Joko Lodang), berpegang pada kesantausaan batin, membawa berita akan datangnya sesuatu yang penuh angkara. Mulai menampakkan sifat-sifat ketakutan, menyembunyikan diri, tidak menepati janji, janji yang diikatpun dapat batal akhirnya hancur, itu suatu tanda kekurang ajaran.

Tembang Gambuh
1. Joko Lodang datang berayun-ayun diantara dahan-dahan pohon kemudian duduk tanpa kesopanan dan berkata dengan keras. Ingat-ingatlah sudah menjadi kehendak Tuhan bahwa gunung-gunung yang tinggi itu akan merendah sedangkan jurang-jurang yang curam akan tampil ke permukaan (akan terjadi wolak-waliking jaman), karena kalah perang akan diusir dari negaranya.

2. Namun jangan salah terima menguraikan kata-kata ini. Sebab bagaimanapun juga meskipun merendah kalau gunung akan tetap masih terlihat bekasnya. Lain sekali dengan jurang yang curam.

3. Jurang yang curam itu meskipun dapat melambung, namun kalau tidak ada tanggulnya sangat rawan dan mudah longsor.


Semua yang dituturkan diatas sudah menjadi kehendak Tuhan akan terjadi pada tahun Jawa 1850 (Sirna= 0, Tata= 5, Esthi= 8 dan Wong= 1). Tahun Masehi kurang lebih 1919-1920

Sinom
1. Waktu itu seluruh kehendak tidak ada yang terwujud, apa yang dicita-citakan buyar, apa yang dirancang berantakan, segalanya salah perhitungan, ingin menang malah kalah, karena datangnya hukuman (kutukan) yang berat dari Tuhan. Yang tampak hanyalah perbuatan-perbuatan tercela. Orang besar kehilangan kebesarannya, lebih baik tercemar nama daripada mati, sedangkan yang kecil tidak mau mengerti akan keadaannya.

2. Banyak orang yang tampaknya alim, tapi hanyalah semu belaka. Di luar tampak baik tetapi di dalamnya tidak. Banyak ulama berbuat maksiat. Mengerjakan madat, madon, minum, dan berjudi. Para haji melemparkan ikat kepala hajinya. Orang wanita hilang kewanitaannya karena terkena pengaruh harta benda. Semuanya saja waktu itu hanya harta bendalah yang menjadi tujuan.

3. Hanya harta bendalah yang dihormati pada jaman tersebut. Oleh karena itu seluruh isi dunia penderitaan kesengasaraannya makin menjadi-jadi. Tahun Jawa menunjuk tahun 1860 (Nir= 0, Sad= 6, Esthining= 8, Urip= 1). Tahun Masehi kurang lebih 1930. Penghabisan penderitaan bila semua mulai bertobat dan menyerahkan diri kepada kekuasaan Tuhan Seru sekalian alam.

Megatruh
1. Mendengar segalanya itu Mbok Perawan merasa sedih. Kemudian Joko Lodang berkata lagi: “Tetapi ketahuilah bahwa ada hukum sebab musabab, didalam ramalan yang sudah ditentukan haruslah diusahakan supaya segera dan dapat terjadi (terwujud).

2. Jamannya masih sama pada akhir pertengahan jaman. Tahun Jawa 1877 (Wiku= 7, Sapta= 7, Ngesthi= 8, Ratu= 1). Bertepatan dengan tahun Masehi 1945. Akan ada keadilan antara sesama manusia. Itu sudah menjadi kehendak Tuhan.

3. Diwaktu itulah seolah-olah orang yang mengantuk mendapat kethuk (gong kecil) yang berada banyak di jalan. Yang mendapat gembira hatinya sebab di dalam benda tersebut isinya tidak lain emas dan kencana.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar