detiknews, bbcnews, cnn

Selasa, 07 Februari 2012

Ramalan Rongowarsito - SERAT KALA TIDA -

SERAT KALA TIDA

Sinom

1. Mangkya drajating praja;
Kawuryan wus sunyaruri;
Rurah pangrehing ukara;
Karana tanpa palupi;
Atilar silastuti;
Sujana sarjana kelu;
Kalulun Kala tida;
Tidhem tandhaning dumadi;
Ardayengrat dene karoban rubeda.



2. Ratune ratu utama;
Patihe patih linuwih;
Pra nayaka tyas raharja;
Panekare becik-becik;
Parandene tan dadi;
Paliyasing Kala Bendu;
Mandar mangkin andadra;
Rubeda angreribedi;
Beda-beda ardaning wong saknegara;

3. Katetangi tangisira;
Sira sang paramengkawi;
Kawileting tyas duhkita;
Kataman ing reh wirangi;
Dening upaya sandi;
Sumaruna anerawung;
Mangimur manuhara;
Met pamrih melik pakolih;
Temah suka ing karsa tanpa wiweka;

4. Dasar karoban pawarta;
Bebaratan ujar lamis;
Pinudya dadya pangarsa;
Wekasan malah kawuri;
Yen pinikir sayekti;
Mundhak apa aneng ngayun;
Andhedher kaluputan;
Siniraman banyu lali;
Lamun tuwuh dadi kekembanging beka;

5. Ujaring Panitisastra;
Awewarah asung peling;
Ing jaman keneng musibat;
Wong ambeg jatmika kontit;
Mengkono yen niteni;
Pedah apa amituhu;
Pawarta lolawara;
Mundhak angreranta ati;
Angurbaya angiket cariteng kuna;

6. Keni kinarya darsana;
Panglimbang ala lan becik;
Sayekti akeh kewala;
Lelakon kang dadi tamsil;
Masalahing ngaurip;
Wahaninira tinemu;
Temahan anarima;
Mupus pepesthening takdir;
Puluh-puluh anglakoni kaelokan;

7. Amenangi jaman edan;
Ewuh aya ing pambudi;
Milu edan ora tahan;
Boya kaduman melik;
Kaliren wekasanipun;
Ndilalah kersa Allah;
Begja-begjane kang lali;
Luwih begja kang eling lawan waspada;

8. Semono iku bebasan;
Padu-padune kepengin;
Enggih mekoten man Doblang;
Bener ingkang angarani;
Nanging sajroning batin;
Sejatine nyamut-nyamut;
Wis tuwa arep apa;
Muhung mahas ing asepi;
Supayantuk pangaksamaning Hyang Suksma;

9. Beda lan kang wus santosa;
Kinarilan ing Hyang Widhi;
Satiba malanganeya;
Tan susah ngupaya kasil;
Saking mangunah praptil;
Pangeran paring pitulung;
Marga samaning titah;
Rupa sabarang pakolih;
Parandene maksih taberi ichtiyar;

10. Sakadare linakonan;
Mung tumindhak mara ati;
Angger tan dadi prakara;
Karana wirayat muni;
Ichtiyar iku yekti;
Pamilihing reh rahayu;
Sinambi budidaya;
Kanti awas lawan eling;
Kang kaesti antuka parmaning Suksma;

11. Ya Allah ya Rasulu’llah;
Kang sipat murah lan asih;
Mugi-mugi aparinga;
Pitulung ingkang martani;
Ing alam awal akhir;
Dumununging gesang ulun;
Mangkya sampun awredha;
Ing wekasan kadi pundi;
Mula mugi wontena pitulung Tuwan;

12. Sageda sabar santosa;
Mati sajroning ngaurip;
Kalis ing reh aruhura;
Murka angkara sumingkir;
Tarlen meleng malat sih;
Sanityaseng tyas mematuh;
Badharing sapudhendha;
Antuk mayar sawetawis;
BoRONG angGA saWARga meSI marTAya.

Terjemahan Bebas:
Sebelum pada terjemahan bebas perlu diketahui bahwa Serat Kala Tidha tersebut diatas banyak yang mengira merupakan ramalan jaman. Sehingga banyak dihafal dan menjadi lelagon umum. Lebih-lebih pada pupuh nomor 7 (tujuh) yang melukiskan terjadinya jaman edan.

SINOM
1. Keadaan negara waktu sekarang, sudah makin merosot. Situasi (keadaan tata negara) telah rusak, karena sudah tak ada yang dapat diikuti lagi. Sudah banyak yang meninggalkan petuah-petuah/aturan-aturan lama. Orang cerdik cendekiawan terbawa arus Kala Tidha (jaman yang penuh keragu-raguan). Suasananya mencekam, karena dunia penuh dengan kerepotan.

2. Sebenarnya rajanya termasuk raja yang baik, Patihnya juga cerdik, semua anak buah hatinya baik, pemuka-pemuka masyarakat baik, namun segalanya itu tidak menciptakan kebaikan. Oleh karena daya jaman Kala Bendu. Bahkan kerepotan-kerepotan makin menjadi-jadi. Lain orang lain pikiran dan maksudnya.

3. Waktu itulah perasaan Sang Pujangga menangis, penuh kesedihan, mendapat hinaan dan malu, akibat dari perbuatan seseorang. Tampaknya orang tersebut memberi harapan, menghibur sehingga Sang Pujangga karena gembira hatinya dan tidak waspada.

4. Persoalannya hanyalah karena kabar angin yang tiada menentu. Akan ditempatkan sebagai pemuka tetapi akhirnya sama sekali tidak benar bahkan tidak mendapat perhatian sama sekali. Sebenarnya kalau direnungkan, apa sih gunanya menjadi pemuka/pemimpin? Hanya akan membuat kesalahan-kesalahan saja. Lebih-lebih bila ketambah lupa diri, hasilnya tidak lain hanyalah kerepotan.

5. Menurut buku Panitisastra (ahli Sastra), sebenarnya sudah ada peringatan. Didalam jaman yang penuh kerepotan dan kebatilan ini, orang yang berbudi tidak terpakai. Demikianlah jika meneliti. Apakah gunanya menyakini kabar angin akibatnya hanya akan menyusahkan hati saja. Lebih baik membuat karya-karya kisah jaman dahulu kala.

6. Membuat kisah lama ini dapat dipakai kaca benggala, guna membandingkan perbuatan yang salah dan yang betul. Sebenarnya hanya sekali contoh-contoh dalam kisah-kisah lama, mengenai kehidupan yang dapat mendinginkan hati, akhirnya “nrima” dan menyerahkan diri kepada kehendak Tuhan. Yah, segalanya itu karena sedang mengalami kejadian yang aneh-aneh.

7. Hidup didalam jaman edan, memang repot. Akan mengikuti tidak sampai hati, tetapi kalau tidak mengikuti geraknya jaman tidak mendapat apapun juga. Akhirnya dapat menderita kelaparan. Namun sudah menjadi kehendak Tuhan. Bagaimanapun juga walaupun orang yang lupa-lupa itu bahagia namun masih lebih bahagia lagi orang yang selalu ingat dan waspada.

8. Yah segalanya itu sebenarnya dikarenakan keinginan hati. Betul bukan? Memang benar, kalau ada yang mengatakan demikian. Namun sebenarnya didalam hati repot juga. Sekarang sudah tua, apa pula yang dicari. Lebih baik menyepi diri agar mendapat ampunan dari Tuhan.

9. Lain lagi bagi yang sudah kuat. Mendapat rachmat Tuhan. Bagaimanapun nasibnya selalu baik. Tidak perlu bersusah payah tiba-tiba mendapat anugerah. Namun demikian masih juga berikhtiar.

10. Apapun dilaksanakan. Hanya membuat kesenangan pokoknya tidak menimbulkan persoalan. Agaknya ini sesuai dengan petuah yang mengatakan bahwa manusia itu wajib ikhtiar, hanya harus memilih jalan yang baik. Bersamaan dengan usaha tersebut juga harus awas dan waspada agar mendapat rakhmat Tuhan.

11. Ya Allah ya Rasulullah, yang bersifat murah dan asih, mudah-mudahan memberi pertolongan pada hambamu disaat-saat menjelang akhir ini. Sekarang kami telah tua, akhirnya nanti bagaimana. Hanya Tuhanlah yang mampu menolong kami.

12. Mudah-mudahan kami dapat sabar dan sentausa, seolah-olah dapat mati didalam hidup. Lepas dari kerepotan serta jauh dari keangkara-murkaan. Biarkanlah kami hanya memohon karunia padaMU agar mendapat ampunan sekedarnya. Kemudian kami serahkan jiwa dan raga kami.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar