detiknews, bbcnews, cnn

Senin, 13 Februari 2012

GAMBAR DAN ARTIKEL TENTANG KOTA SOLO DALAM MAJALAH LIFE (AMERIKA) 1930 - 140an

Solo atau secara resmi dikenal sebagai Surakarta ternyata telah dikenal dunia jauh sebelum Indonesia merdeka. Banyak penulis / jurnalis luar negeri yang datang berkunjung ke Surakarta sejak abad 19 karena tertarik dengan keunikan kota terbesar kelima pada zaman kolonial ini. Yang menjadi pusat perhatian tentunya pusat budaya dan pemerintahan saat itu, yaitu Keraton Kasunanan dan Pura Mangkunegaran.


Solo sekarang lebih maju di bawah kepemimpinan walikota Joko Widodo, bagi mereka yang sejak dulu telah tinggal di Solo atau pernah mengenyam kehidupan di Solo, pasti bisa merasakan perbedaan jauh antara Solo dulu dan sekarang. Kepemimpinan Joko Widodo tak lepas dari keteladanan para pemimpin Solo zaman dulu yang telah membawa nama baik kota Solo ke tingkat internasional. Adalah Susuhunan PB X (memerintah 1893-1939) dan Mangkunegoro VII (memerintah 1916-1944) yang telah menjadikan Solo sebagai salah satu kota internasional saat itu, bahkan, menurut Jokowi (panggilan akrab Joko Widodo), Solo merupakan salah satu kota di Asia Tenggara dengan tata kota terbaik pada awal abad 20. Jokowi pun menjadikan PB X dan MN VII sebagai teladan dalam memimpin kotanya, sampai-sampai visi kota solo pun ditetapkan "Solo's Future is Solo's Past", dimana Jokowi hendak membangun kembali kejayaan Solo zaman dulu.

1. Majalah LIFE Amerika edisi 7 Desember 1936 mengulas tentang perayaan ulang tahun ke-72 Sunan Pakubuwono X.


Salah satu dinasti tertua di dunia adalah dinasti keluarga raja Surakarta di Jawa bagian tengah, Sultan Paku Buwono X, yang dikenal oleh 2.260.000 penduduk jawa sebagai "sang bijak / ingkang wicaksana", darah ningratnya bermula semenjak abad 8 masehi. Di bawah naungan ratu wilhelmina dari belanda, beliau menguasai satu diantara dua kesultanan asli di tanah Belanda pada sisi dunia yang lain. Petinggi di atasnya adalah residen M.J.J. Treur yang mana dipanggil sebagai "saudara tua". Baru-baru ini, sang Sultan merayakan ulang tahunnya yang ke-72 dan mengundang "saudara tua" untuk ikut menghadiri pesta di istananya. Selain itu, yang ikut hadir adalah 4 istri resminya, 11 istri tidak resmi, 44 putra putrinya, 88 cucunya, 20 cicitnya - dan turut diundang pula fotografer pertama eropa yang diundang untuk meliput pesta ulang tahun sang sultan. Berhubung Paku Buwono masih memegang teguh tradisi istana Jawa - Melayu, seluruh 6000 abdi dalem, pegawai, prajurit, pembantu, dan para selir istana diperindah untuk perayaan pesta tiga hari tersebut.

Sembilan putri istana menarikan tari kuno jawa, bedoyo, di hadapan sultan dan para hadirin.


Tamu undangan dan para putra sultan bersimpuh di hadapan ayah mereka.




Perjanjian tahun 1750 antara VOC dan Sultan Surakarta membagi kekayaan tanah kekuasaan seluas 2,408 meter persegi (seukuran delaware). Dengan demikian, istananya dipermewah dengan kanopi sutra, lampu kristal, dan pegawai istana dengan lencana emas. Karena sang paku buwono tertarik dengan barang-barang modern, Paku Buwono "sang bijak" memiliki sebuah mobil amerika dan pesawat inggris. Namun, karena jantungnya yang lemah, dokter pribadi kerajaann didikan paris melarangnya untuk terbang, namun beliau tidak mematuhi anjuran dokternya. Pakaian kepala pegawai istana dibuat dalam gaya culberston. Selain itu, beliau juga mengoleksi medali penghargaan dari berbagai negara dunia. Separuh dari negara dunia direpresentasikan dalam medali penghargaan pada jas velvetnya. Musim semi yang lalu, beliau memprotes ke konsulat Amerika Serikat, Jenderal Walter A. Foote karena amerika belum memberikannya penghargaan.


Para abdi dalem sultan telanjang kaki, berbalut bawahan kain batik, dilarang berdiri di hadapan sultan. Jikalau mereka hendak pergi, mereka harus merangkak dengan tetap bersimpuh.


Pada pesta jamuan makan malam, sang tuan rumah (memakai jas fez) dan "saudara tua (dengan jas putih) menghadap kamera. Umur paku (72) tertera pada vas bunga.


Berhubung sang Sultan menyukai parade, Belanda mengizinkannya untuk memiliki kelompok prajurit kecil demi hasrat keindahannya.

Dari artikel majalah life edisi 7 desember 1936 tersebut dapat disimpulkan bahwa :
PB X itu sangat kaya
PB X memiliki dokter pribadi dengan pendidikan dari Perancis (dr.Rajiman Widyodiningrat kah yang dimaksud??)
PB X memiliki mobil pribadi dari Amerika (PB X adalah pemilik mobil pertama di Indonesia thn 1894 merk benz)
PB X memiliki pesawat pribadi buatan Inggris
PB X memiliki 6000 pembantu/abdi dalem/prajurit
PB X memiliki tanda penghargaan/medali dari separuh lebih negara di dunia (saat itu)
Batik sudah dikenal dunia saat itu.

2. Majalah LIFE Amerika edisi 25 Januari 1937: Putri MN VII menari di Belanda

Ternyata KGPAA Mangkunegoro VII beserta istrinya, Gusti Ratu Timur, dan putrinya, Gusti Nurul, pernah dimuat juga dalam majalah bergengsi Amerika "LIFE" edisi 25 Januari 1937. Majalah itu memberitakan pernikahan Putri Juliana dan Pangeran Bernhard yang menghadirkan putri MN VIIi yaitu Gusti Nurul untuk menari pada acara pernikahan mereka.




Gusti Nurul berusia 15 tahun saat itu, dan merupakan putri yang pandai menunggang kuda, berenang, dan bermain tenis, sehingga menjadi dambaan para tokoh nasional seperti Sukarno. Konon, gamelannya (Kanjut Mesem) dibunyikan dari Pura Mangkunegaran kemudian dipancarkan via radio SRV sampai ke Belanda saat mengiringi Gusti Nurul menarikan tari Serimpi (mirip-mirip teleconference, waktu itu itungannya udah canggih banget gan, asli modal pribumi). SRV merupakan perintis stasiun radio pribumi di tanah air. Saat Gusti Mangkunegoro ke Belanda, banyak jurnalis dari berbagai negara mewawancarai beliau, mereka tertarik dengan keagungan budaya timur yang bernilai tinggi yang waktu itu belum banyak dikenal masyarakat dunia. Selain itu mereka kagum akan sosok Mangkunegoro VII (orang dari dunia timur) yang sangat cerdas.

Kepergian MN VII juga diberitakan oleh koran Singapura 'The Straits Time', 13 Oktober 1936 halaman 19, bunyinya "The Mangkunegoro and The Ratu Timur of Solo will go to Holland to Attend the Wedding of Princess Juliana and Prince Bernard".

Solo, baik Keraton Kasunanan maupun Mangkunegaran sebagai pemerintahan di Solo saat itu, ikut berjuang bersama Sukarno mempertahankan NKRI. Bahkan, biaya keberangkatan rombongan Indonesia menuju KMB dibiayai oleh Keraton dan Mangkunegaran.


3. Majalah LIFE tahun 1946 : JAVA REVOLT.


Tampak BENDERA MERAH PUTIH di atas meja PB XII. Artikel tersebut juga dengan tegas menyatakan 100% Jawa mendukung revolusi anti belanda dan perjuangan tersebut didukung oleh dua kerajaan SURAKARTA dan YOGYAKARTA.


Ini adalah saat Sukarno dan M Hatta berdiskusi dengan Mangkunegoro VIII di Pendopo Pura Mangkunegaran.

4. Majalah LIFE edisi 13 Februari 1950 : The New Nation of Indonesia.

Majalah LIFE edisi 13 Februari 1950 (pasca KMB) secara ekslusif menampilkan keunikan kehidupan di Indonesia dalam "The New Nation of Indonesia" sebanyak 14 halaman, dan Surakarta ikut diceritakan.


Atas : penari Bali menarikan tarian yang diambil dari kisah Ramayana, banyak dari tarian Indonesia yang diambil dari kisah Hindu tersebut
Tengah : Tarian Istana untuk Sang Susuhunan Surakarta yang masih muda, tema tariannya "menciptakan kesejahteraan"
Bawah : Seorang kerabat Susuhunan Surakarta menarikan tarian dengan berperan sebagai raja jahat diambil dari kisah Mahabarata.


Tarian di Indonesia Anggun dan Unik, tarian di Bali dibandingkan Jawa lebih dinamis dan cenderung menampilkan "kesurupan" roh jahat sementara tarian di jawa lebih lembut dan lebih formal. Kedua macam tarian diiringi musik gong yang indah dan para penarinya mengenakan kostum keemasan
Kiri atas dan bawah : tarian di Bali dimana penarinya terhiopnotis untuk bertarung dengan roh jahat
Kanan : Putri Istana Surakarta menarikan tari Serimpi, sebuah mahakarya seni.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar