detiknews, bbcnews, cnn

Minggu, 19 Februari 2012

KESULTANAN PAJANG

Kerajaan Pajang adalah sebuah kerajaan yang berpusat di Jawa Tengah sebagai kelanjutan Kerajaan Demak. Kompleks keraton, yang sekarang tinggal batas-batas fondasinya saja, berada di perbatasan Kelurahan Pajang, Kota Surakarta dan Desa Makamhaji, Kartasura, Sukoharjo.

Asal-usul

Sesungguhnya nama negeri Pajang sudah dikenal sejak zaman Kerajaan Majapahit. Menurut Negarakertagama yang ditulis tahun 1365, ada seorang adik perempuan Hayam Wuruk (raja Majapahit saat itu) menjabat sebagai penguasa Pajang, bergelar Bhatara i Pajang, atau disingkat Bhre Pajang. Nama aslinya adalah Dyah Nertaja, yang merupakan ibu dari Wikramawardhana, raja Majapahit selanjutnya.

Dalam naskah-naskah babad, negeri Pengging disebut sebagai cikal bakal Pajang. Cerita Rakyat yang sudah melegenda menyebut Pengging sebagai kerajaan kuno yang pernah dipimpin Prabu Anglingdriya, musuh bebuyutan Prabu Baka raja Prambanan. Kisah ini dilanjutkan dengan dongeng berdirinya Candi Prambanan.

Ketika Majapahit dipimpin oleh Brawijaya (raja terakhir versi naskah babad), nama Pengging muncul kembali. Dikisahkan putri Brawijaya yang bernama Retno Ayu Pembayun diculik Menak Daliputih raja Blambangan putra Menak Jingga. Muncul seorang pahlawan bernama Jaka Sengara yang berhasil merebut sang putri dan membunuh penculiknya.

Atas jasanya itu, Jaka Sengara diangkat Brawijaya sebagai bupati Pengging dan dinikahkan dengan Retno Ayu Pembayun. Jaka Sengara kemudian bergelar Andayaningrat.

Kerajaan Pajang

Pajang terlihat sebagai kerajaan pertama yang muncul di pedalaman Jawa setelah runtuhnya kerajaan Muslim di Pasisir.

Menurut naskah babad, Andayaningrat gugur di tangan Sunan Ngudung saat terjadinya perang antara Majapahit dan Demak. Ia kemudian digantikan oleh putranya, yang bernama Raden Kebo Kenanga, bergelar Ki Ageng Pengging. Sejak saat itu Pengging menjadi daerah bawahan Kerajaan Demak.

Beberapa tahun kemudian Ki Ageng Pengging dihukum mati karena dituduh hendak memberontak terhadap Demak. Putranya yang bergelar Jaka Tingkir setelah dewasa justru mengabdi ke Demak.

Prestasi Jaka Tingkir yang cemerlang dalam ketentaraan membuat ia diangkat sebagai menantu Trenggana, dan menjadi bupati Pajang bergelar Hadiwijaya. Wilayah Pajang saat itu meliputi daerah Pengging (sekarang kira-kira mencakup Boyolali dan Klaten), Tingkir (daerah Salatiga), Butuh, dan sekitarnya.

Sepeninggal Trenggana tahun 1546, Sunan Prawoto naik takhta, namun kemudian tewas dibunuh sepupunya, yaitu Arya Penangsang bupati Jipang tahun 1549. Sebelum dibunuh Sunan Prawata telah membunuh ayah dari Arya Penangsang, yang bernama Pangeran Sekar Seda Lepen (adik Raja Trenggana).
Untuk memperbesar kekuasaan dan wilayahnya, Arya Penangsang menyerang Kadipaten Pajang, juga berusaha membunuh Hadiwijaya (Jaka Tingkir), namun usahanya itu gagal. 

Sepeninggal suaminya, Ratu Kalinyamat (Bupati Jepara dan puteri Trenggana) mengajak kerjasama dengan Jaka Tingkir untuk membalas serangan Penangsang. Ajakan itu ditolak karena mereka masih kerabat Kerajaan Demak dan satu perguruan Sunan Kudus. Akhirnya Jaka Tingkir mengeluarkan sayembara, siapa yang dapat membunuh Aria penangsang akan dihadiahi tanah Pati dan Mentaok (Mataram). 

Sayembara itu dikuti oleh dua orang cucu dari Ki Ageng Sela, yaitu Kia Ageng Pemanahan dan Ki Penjawai. Atas nasehat kakak iparnya ( Ki Juru Martani) Ki Ageng Pemanahan meminta kepada puteranya bernama Sutawijaya agar dapat membunuh Aria Penangsang. Dengan pusaka tombak Kyai Plreret, Aria penangsang dapat dibunuh. Kelak Sutawijaya ini menjadi Raja Mataram dengan gelar Senopati Ingalaga.

Setelah peristiwa tersebut, pada tahun 1549 Jaka Tingkir mewarisi kerajaan Demak dengan pusat pemerintahannya di daerah Pajang. Dengan mendapat restu dan dukungan para wali di bawah koordinasi Sunan Giri, ia menobatkan dirinya dengan menggunakan gelar Raja Hadiwijaya. 

Perkembangan

Wilayah kekuasaan Pajang awalnya meliputi daerah di Jawa Tengah dan beberapa daerah di Jawa Timur – sebagian besar daerah di Jawa Timur telah melepaskan diri semenjak kematian Raja Trenggana. 

Di dalam rangka mengkonsolidasikan kekuasaannya, Raja Hadiwijaya mengangkat rekan-rekan seperjuangannya. Mas Manca dijadikan Patih Mancanegara, sedangkan Mas Wila dan Ki Wuragil dijadikaan menteri berpangkat Ngabehi. 

Pada tahun 1568 Hadiwijaya mengadakan pertemuan dengan para adipati dari Jawa Timur yang dulu setia kepada Demak di Giri Kedaton yang diprakarsai oleh Sunan Prapen. Pada kesempatan itu para adipati sepakat mengakui kedaulatan Pajang di atas daeraah-daerah/negeri-negeri di Jawa Timur. Sebagai ikatan politik, Panjiwiryakrama dari Surabaya (pimpinan persekutuan adipati di Jawa Timur) dinikahkan dengan puteri Raja Hadiwijaya. 

Negeri kuat lainnya, yaitu Madura juga berhasil ditundukkan Pajang. Pemimpinnya yang bernama Raden Pratanu alias Panembahan Lemah Dhuwur juga diambil sebagai menantu Hadiwijaya. Kecuali Kadipaten Pasuruhan sampai jatuhnya Kerajaan Pajang belum juga dapat ditaklukannya.

Peran Wali Songo

Pada zaman Kerajaan Demak, majelis ulama Wali Songo memiliki peran penting, bahkan ikut mendirikan kerajaan tersebut. Majelis ini bersidang secara rutin selama periode tertentu dan ikut menentukan kebijakan politik Demak.

Sepeninggal Trenggana, peran Wali Songo ikut memudar. Sunan Kudus bahkan terlibat pembunuhan terhadap Sunan Prawoto, raja baru pengganti Trenggana.

Meskipun tidak lagi bersidang secara aktif, sedikit banyak para wali masih berperan dalam pengambilan kebijakan politik Pajang. Misalnya, Sunan Prapen bertindak sebagai pelantik Hadiwijaya sebagai raja. Ia juga menjadi mediator pertemuan Hadiwijaya dengan para adipati Jawa Timur tahun 1568. Sementara itu, Sunan Kalijaga juga pernah membantu Ki Ageng Pemanahan meminta haknya pada Hadiwijaya atas tanah Mataram sebagai hadiah sayembara menumpas Arya Penangsang.

Wali lain yang masih berperan menurut naskah babad adalah Sunan Kudus. Sepeninggal Hadiwijaya tahun 1582, ia berhasil menyingkirkan Pangeran Benawa dari jabatan putra mahkota, dan menggantinya dengan Arya Pangiri.
Mungkin yang dimaksud dengan Sunan Kudus dalam naskah babad adalah Panembahan Kudus, karena Sunan Kudus sendiri sudah meninggal tahun 1550.

Pemberontakan Mataram

Tanah Mentaok (Mataram) dan Pati adalah dua hadiah Hadiwijaya untuk siapa saja yang mampu menumpas pemberontakan Arya Penangsang tahun 1549. Menurut laporan resmi peperangan, Arya Penangsang tewas dikeroyok Ki Ageng Pemanahan dan Ki Penjawi.

Ki Penjawi diangkat sebagai penguasa Pati sejak tahun 1549. Sedangkan Ki Ageng Pemanahan, setelah sekian lama menunggu dengan penuh kegelisahan, baru mendapatkan hadiahnya tahun 1556, itupun berkat bantuan Sunan Kalijaga. Hal ini disebabkan karena Hadiwijaya mendengar ramalan Sunan Prapen bahwa di Mataram akan lahir kerajaan yang lebih besar dari pada Pajang.

Sebelumnya, Hadiwijaya sengaja menangguhkan pengesahan alas tanah Mentaok dikarenakan pada saatnya nanti juga akan diwariskan kepada Danang Sutawijaya sendiri sebagai putra angkat beliau, bukan sebatas Mentaok saja. Sedangkan Ki Ageng Pemanahan sendiri merasa tidak mau ketinggalan menyaksikan Pati yang dipimpin Ki Penjawi sudah semakin berkembang menjadi sebuah negeri.

Ramalan Sunan Prapen memang menjadi kenyataan ketika Mataram dipimpin Sutawijaya putra Ki Ageng Pemanahan, sekaligus putra angkat Hadiwijaya, sejak tahun 1575. Tokoh Sutawijaya inilah yang sebenarnya membunuh Arya Penangsang. Di bawah pimpinannya, daerah Mataram semakin hari semakin maju dan berkembang, sehingga tidak mau patuh lagi sowan (1587) ke Pajang. Ini membuat Raja Pajang kuwatir akan hal itu. 

Keengganan Sutawijaya untuk sowan sebenarnya bukan dikarenakan kesibukan, dan bukan juga keinginan untuk melakukan suatu pemberontakan, akan tetapi dikarenakan atas sumpahnya sendiri untuk tidak akan masuk ke paseban sowan menghadap Sultan sekaligus ayahanda angkatnya, sebelum berhasil menjadikan Mataram (Mentaok) sebagai sebuah negeri yang besar.

Pada tahun 1582 meletus perang antara Pajang dan Mataram yang disebabkan Sutawijaya membela adik iparnya – yaitu Tumenggung Mayang yang dihukum buang ke Semarang oleh Hadiwijaya. Pajang melakukan serangan terlebih dahulu. Sebelum terjadi pertempuran di Prambanan para prajuritnya tercerai berai karena Gunung Merapi meletus. Perang itu dimenangkan pihak Mataram meskipun pasukan Pajang jumlahnya lebih besar.
 
Dari Prambanan Hadiwijaya kembali ke kerajaannya. Namun sebelumnya ia singgah di Tembayat (di Klaten). Sepulang dari perang, Hadiwijaya jatuh sakit. Karena sudah tua, ia merasakan bahwa kerajaannya akan berakhir dan akan diganti Mataram yang akan memerintah seluruh Jawa.

Tak lama kemudian Hadiwijaya meninggal, jenazahnya dikebumikan di dukuh Butuh (di daerah Kab. Sragen) pada tahun 1589. Menurut ceritera Babad, Hadiwijaya meninggal sebagai akibat (jatuh dari gajah naik gajah?) ulah dari Juru Tamannya yang simpati terhadap Raja Mataram.

Keruntuhan

Setelah terjadi kekosongan kekuasaan, terjadi persaingan antara putra dan menantu Hadiwijaya, yaitu Pangeran Benawa dan Arya Pangiri sebagai raja selanjutnya. Arya Pangiri didukung Panembahan Kudus berhasil naik takhta tahun 1583.

Pemerintahan Arya Pangiri hanya disibukkan dengan usaha balas dendam terhadap Mataram. Kehidupan rakyat Pajang terabaikan. Hal itu membuat Pangeran Benawa yang sudah tersingkir ke Jipang, merasa prihatin.

Pada tahun 1586 Pangeran Benawa bersekutu dengan Sutawijaya menyerbu Pajang. Meskipun pada tahun 1582 Sutawijaya memerangi Hadiwijaya, namun Pangeran Benawa tetap menganggapnya sebagai saudara tua.

Perang antara Pajang melawan Mataram dan Jipang berakhir dengan kekalahan Arya Pangiri. Ia dikembalikan ke negeri asalnya yaitu Demak. Pangeran Benawa kemudian menjadi raja Pajang yang ketiga.

Pemerintahan Pangeran Benawa berakhir tahun 1587. Tidak ada putra mahkota yang menggantikannya sehingga Pajang pun dijadikan sebagai negeri bawahan Mataram. Yang menjadi bupati di sana ialah Pangeran Gagak Baning, adik Sutawijaya.

Sutawijaya sendiri mendirikan Kerajaan Mataram, di mana ia sebagai raja pertama bergelar Panembahan Senopati.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar