detiknews, bbcnews, cnn

Rabu, 21 April 2010

OUTPUT VALUE BERBANGSA DAN BERNEGARA


Kepekaan yang kritis
Dalam konteks berbangsa dan bernegara seseorang dituntut memiliki kepekaan. Kepekaan inilah yang terkadang mengansumsikan seseorang untuk berpersepsi atas situasi dan kondisi bangsa dan negaranya. Terlebih disaat sekarang, kepekaan seseorang yang sebenarnya bisa kita harapkan menjadi sebuah kesadaran kolektif untuk hidup berbangsa dan bernegara, namun seringkali disalah artikan sebagai kritik atas ketidak puasan, baik secara individu maupun publik, dan terlampau disayangkan pula apabila ketidak puasan tersebut sampai “tertunggangi” oleh kepentingan-kepentingan ekonomis, politis atau pun ideologis.

Kepekaan yang kritis akan berdampak pada toleransi, karena kepekaan itu tidak sekedar memberikan sorotan pada hal-hal yang taktis, namun secara teknis juga dapat memberikan sorotan pada hal-hal yang strategis, dengan dampak strategis pula, dikarenakan kepekaan itu memiliki pandangan dan jangkauan yang lebih luas dan jauh ke depan.
Dalam menghadapi situasi bangsa dan negara seperti sekarang, sangatlah tidak adil apabila kita mengedepankan ego dan arogansi pribadi, karena walaupun - starting point - nya bisa dibilang cukup mengharukan dan memilukan, namun filsafat akan proses akan membuktikan bahwa semua itu tak akan lepas dari kepentingan ekonomis, politis dan ideologis. Hal tersebut juga menjadi bagian dari pokok persolan, mengapa dalam konteks berbangsa dan bernegara kita sangat sulit untuk dipersatukan?!
Dalam dinamika sejarah perjuangan bangsa -terlepas dari pembelokan di sana-sini- bagaimana proses bangsa dan negara ini dibangun, diawali dari perjuangan secara kedaerahan, pergerakan nasional, perjuangan revolusi kemerdekaan, persatuan perjuangan, perjuangan rakyat semesta, sampai dengan Konferensi Meja Bundar. Betapa tidak bisa kita pungkiri, semua itu melahirkan sosok-sosok yang sering kita sebut sebagai pahlawan dan founding fathers bangsa, bukan hanya atas pengorbanan mereka yang cuma-cuma untuk kemerdekaan, tetapi bagaimana “kelihaian” mereka dalam menjaga dan memastikan bumi ini tetap “berputar” pada tempat yang “benar”.
Output value
Pahlawan-pahlawan itu orang yang cakap di masanya, dan kecakapan itu kita akui sampai sekarang, dan beberapa dari kita bahkan sampai men-“dewa”-kannya. Sebenarnya bukan hanya sekedar kecakapan yang akan kita persoalkan dalam hal ini, melainkan kemampuan mereka dalam mengakomodir dan memobilisasi suatu kepekaan dengan berbagai tingkat kecakapan ke dalam satu critical action perjuangan sebagai input value dengan kemerdekaan sebagai output value. Kemerdekaan sebagai output value inilah yang saat itu terbukti bisa menyatukan gena kebangsaan kita. Siapapun waktu itu terbukti dengan segala kecakapannya dapat memberikan sumbangan untuk kemerdekaan, perjuangan rakyat semesta terbukti efektif menggagalkan kedua kali Agresi Militer Belanda, bahkan kecakapan seseorang dalam mencuri pun sangat membantu mencuri senjata dan logistik lawan.
Mengkolaborasikan kecakapan dan kepekaan dalam jiwa kepahlawanan tanpa pamrih tidaklah mudah, kalaupun mudah sudah tentu banyak bertebaran pahlawan-pahlawan di bangsa dan negara ini, dan persoalan bangsa dan negara tidaklah akan seperti ini jadinya. Itulah sebab, di manapun, dan dari manapun pahlawan itu berasal, adalah seseorang yang minoritas dari masyarakatnya, namun berkemampuan superior yang diakui secara mayoritas, dan dengan kecakapannya mampu memobilisasi masyarakatnya tersebut secara masal.
Kembali pada kemerdekaan sebagai output value pada saat itu, dengan kondisi masyarakat yang bodoh dan miskin secara mayoritas, namun tidak terlalu sulit untuk disatukan. Berbeda jauh di masa sekarang, yang bisa dibilang sudah merdeka, semakin banyaknya cendekiawan dan intelektual dari berbagai disiplin ilmu, dengan diikuti pembangunan di segala bidang, justru semakin menjadikan bangsa dan negara ini tak tentu arah. Apakah pesoalannya hanya orang miskin dan bodoh saja yang bisa bersatu ataukah karena waktu itu perasaan persamaan nasib saja?! Apakah semakin banyaknya orang yang berilmu dan bijak di negara ini justru semakin sulit untuk dipersatukan?! Apakah kebodohan dan kemiskinan menyebabkan seseorang mudah untuk dimobilisasi?! Ataukah semakin tinggi tingkat kritisme seseorang semakin tinggi tingkat egonya?! Mungkinkah semakin banyak yang tak mau peduli akan bangsa dan negara ini?!
Sangatlah realistis dan rasional apabila dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara ini, output value itu sangat penting dan menjadi prioritas pertama dari yang utama. Pernah kita dapat menyatukan tujuan untuk Indonesia merdeka, selanjutnya begitu kemerdekaan itu kita raih bukan berarti tujuan hidup berbangsa dan bernegara menjadi “rancu”. Boleh saja dibilang tujuan hidup berbangsa dan bernegara kita sekarang adalah mempertahankan kemerdekaan, mengisi kemerdekaan dan membangun, siapapun dan dimanapun kita, tetapi tanpa ada prioritas yang jelas akan menyebabkan segala sesuatunya menjadi abstrak, sporadis dan membabi buta, atau lebih tepatnya tak tentu arah dan mengalami kesulitan dari mana semua itu akan dimulai.
Jadi memang benar, mempertahankan dan mengisi kemerdekaan itu lebih sulit ketimbang memperjuangkannya. Dalam rangka memperjuangkan kemerdekaan, bersama dengan kawan yang jelas kita menghadapi musuh yang jelas. Namun, setelah kemerdekaan itu kita raih justru menjadi tidak jelas siapa kawan dan siapakah lawan, karena begitu bangsa ini merdeka, siapapun kita mau tidak mau menjadi terkooptasi oleh wilayah-wilayah ekonomis, politis dan ideologis. Beberapa orde (Orde Lama, Orde Baru, Reformasi) masing-masing memberikan corak dalam mengatur hidup berbangsa dan bernegara, baik secara ekonomi, politik, sosial, budaya dan hankam. Alangkah disayangkan kalau hanya menjadi kepingan-kepingan catatan sejarah semata, padahal mengapa dan bagaimana kita belajar sejarah, baik dari zaman prasejarah sampai sekarang adalah demi “mikul dhuwur, mendem jero” (ambil yang baik, tinggalkan yang buruk). Berharap masa depan lebih baik, tentunya dengan indikator dan variabel yang jelas, sekaligus berani menentukan starting point untuk melakukan langkah taktis maupun strategis, karena seseorang siapapun dan bangsa manapun tidak akan dengan serta merta begitu saja sampai pada tujuannya.
Merindukan pahlawan
Di masa sekarang sudah tentu pahlawan itu merupakan sosok yang teramat sangat dirindukan, terkandung maksud tentang kenyataan akan beberapa hal yang mengakibatkan kemerdekaan itu tertunda untuk kita nikmati, atau bangsa kita cuma baru sebatas mencapai pintu gerbang kemerdekaan saja, ataukah kita terlampau cepat puas dan berbangga diri tentang kemerdekaan itu. Belum lagi kemajemukan bangsa didukung masyarakatnya yang serba plural, dan heterogenitas dengan potensi konflik. Bagaimana dengan Pancasila dan UUD 1945 yang seyogyanya mengilhami atas track and traffic dalam hidup berbangsa dan bernegara di Indonesia? Masihkah kita bersama Bhineka Tunggal Ika Tan Hana Darma Mangrwa?! Sia-siakah pengorbanan para pahlawan kita?! Perlukah pahlawan kita bangkit kembali dari kuburnya karena marah kepada kita dengan keadaan sekarang?!
Serindu apapun kita pada para pahlawan, tidaklah bisa mengubah keadaan bahwa beliau sudah gugur mendahului kita. Sangatlah mustahil, secara nyata dan terang-terangan pahlawan kita secara serentak bangkit kembali dan berjuang. Tentang kebangkitan dan perjuangan itu hanya bisa dilakukan oleh kita yang masih hidup, namun dapat pula diartikan suatu jiwa kepahlawanan yang merasuk dan bersemayam pada setiap insan generasi bangsa. Menjelma menjadi sebuah gena, gena kebangsaan. Karena yang diperlukan bangsa ini bukan hanya kepekaan atau pun kecakapan semata, melainkan kecakapan dalam mengaplikasikan dan mengaktualisasikan sebuah kepekaan secara kritis, adil dan bijak, mengawalinya dari diri, keluarga, masyarakat atau lingkungannya.
Sudah saatnya kita menanggalkan kembali segala pamrih, kembali pada jargon “jangan kau tanyakan apa yang sudah negara berikan kepadamu, tapi tanyakanlah apa yang sudah kau berikan untuk negaramu”, terlepas dari realita bahwa negara ini sudah terlampau banyak “meminta” pada kita dan kita pun sudah terlampau banyak “memberi” pada negara. Namun, kembali pada jiwa kepahlawanan tanpa pamrih, hal tersebut akan berdampak strategis sebagai bentuk misi penyelematan bangsa dan generasi bangsa. Boleh jadi saat ini akan ada yang bersorak dan bertepuk tangan akan dampak jiwa kepahlawanan tanpa pamrih yang dimanfaatkan, diklaim dan dikooptasi oleh penganut paham “kepentingan” ekonomis, politis dan ideologis, tetaplah kita tidak perlu khawatir karena segala yang kita tanam, kita sendiri yang akan memetiknya, kalau pun bukan kita, anak cucu dan generasi kita yang akan datang sudah dipastikan akan menuainya.
Producting Hero
Pahlawan tidaklah bisa diciptakan, apalagi diproduksi secara masal, karena pahlawan itu muncul dari keadaan, dan yang bisa kita lakukan dalam hal ini hanya sebatas menauladani dan memberikan tauladan jiwa-jiwa kepahlawanan dalam sikap, pola pikir dan perilaku. Menauladani dan memberikan tauladan inilah sebagai alternatif untuk memastikan kemunculan sosok-sosok pahlawan di masa depan dalam berbagai keadaan.
Dalam hal memberikan pendidikan kepada generasi tidaklah terbatas pada pemberian kecakapan secara umum ataupun khusus, melainkan pendidikan akan kepekaan sangatlah penting untuk menunjang mengaplikasikan sebuah kecakapan. Kepekaan yang secara garis besar merupakan stimulus-respon (aksi-reaksi) terhadap realitas apapun yang pernah terjadi, sedang terjadi, dan akan terjadi. Jadi, SDM sebagai input value, yang tangguh dengan kecakapan dan kepekaan yang kritis akan sangat menentukan Output value dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di kemudian hari.

DIPONEGORO

Di masa pembangunan ini
Tuan hidup kembali
dan bara kagum menjadi api

Di depan sekali tuan menanti
tak gentar lawan banyaknya seratus kali
Pedang di kanan, keris di kiri
berselempang semangat yang tak bisa mati

MAJU

Ini barisan tak bergenderang berpalu
kepercayaan tanda menyerbu

Sekali berarti
sudah itu mati

MAJU

bagimu negeri
menyediakan api

punah di atas menghamba
binasa di atas ditindas

sesungguhnya jalan ajal baru tercapai
jika hidup harus merasai

Maju
Serbu
Serang
Terjang

(Chairil Anwar, Februari 1943)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar