detiknews, bbcnews, cnn

Kamis, 22 April 2010

Menelusuri KRT. Prawirodigdoyo (I)

Setyaka Atmaja Setelah tumbuh dewasa, Raden Mas Ontowiryo yang kemudian bergelar Pangeran Diponegoro makin kecewa melihat pembesar-pembesar Belanda duduk sejajar dengan Sultan. Pangeran Diponegoro menganggap semua itu sebagai merosotnya martabat kerajaan dan wibawa Sultan. Suasana makin bertambah parah dengan kebiasaan baru kerabat keraton yang suka minum-minuman keras. Sementara Pangeran Diponegoro sudah tegak (bersikap luhur) menyerahkan gelar mahkotanya kepada adiknya yang masih kecil, Sultan Hamengku Buwono IV. Pangeran Diponegoro kemudian lebih banyak mengasingkan diri di tempat-tempat sepi, seperti di gua-gua di pantai selatan. Di tempat seperti inilah ia menemukan ketenangan batin. Meski demikian, ia merasa harus mengembalikan martabat Mataram dan membebaskan rakyat dari ketidak adilan dan kesengsaraan. Tak ada jalan lain, kecuali dengan harus mengusir penjajah.
 
Tanggal 23 Mei 1823, Pangeran Diponegoro menggalang kekuatan dengan para alim ulama dan tokoh-tokoh yang berpengaruh di wilayah mataram. Orang pertama yang dikunjungi adalah kiai Abdani dan Kiai Anom di Bayat, Klaten. Ia mendapat dukungan sekaligus tambahan ilmu kedigdayaan. Selanjutnya ia bersama Pangeran Mangkubumi berkunjung ke Sawit, Boyolali untuk menemui Kiai Mojo, seorang Kiai kepercayaan Kanjeng Susuhunan Pakubuwono IV Kiai Mojo pun setuju dan mendukung penuh perjuangan Pangeran Diponegoro. Dengan diantar Kiai Mojo, Pangeran Diponegoro menemui Tumenggung Prawirodigdoyo di Gagatan. Tumenggung Gagatan ini adalah orang kepercayaan Susuhunan Paku Buwono VI. Pada tahun 1824, atas saran Kiai Mojo dan Tumenggung Gagatan, Pangeran Diponegoro menemui Kanjeng Susuhunan Paku Buwono VI. Ternyata Raja Surakarta ini, sangat mendukung perjuangan pamannya. Ia tidak hanya memberi dukungan dalam bentuk dana perang, tapi juga pasukan-pasukan Keraton dan para Senopati terpilih disediakan.

Banyak orang meyakini bahwa guru agama Diponegoro adalah Kyahi Taptajani, ulama besar keturunan Kyahi Nuriman dari pesantren Mlangi. Yang cukup menarik ialah pernyataan Suwarno Adinoto dalam bukunya Menyingkap Perlawanan T. Prawiro-digdoyo : Sawung Gagatan. Dikatakan bahwa Raden Mas Ontowiryo alias Pangeran Diponegoro adalah saudara seperguruan Yudo*), cucu Ngabehi Prawirosakti dari Gagatan. Mereka sama-sama pernah menjadi murid Syeh Kaliko Jipang, di pondok pesantren Petingan, di sebelah utara Jogyakarta. Usia Ontowiryo waktu itu baru delapan tahun, sedangkan Yudo lima tahun lebih tua.

*)Menurut silsilah trah gagatan, Yudo adalah putra Raden Surotaruno III, cucu Ngabehi Prawirosakti (Adimenggolo) dari Gagatan, Boyolali. Ibunya, Raden Ayu Surotaruna adalah putri Adipati Notokusumo (Pangeran Juru), patih kerajaan Surakarta yang dibuang Belanda ke Ceylon. Sejak kecil Yudo diasuh oleh kakeknya, yakni Ngabehi Prawirosakti. Setelah berusia tiga belas tahun dia dikirim ke pondok pesantren Petingan Jogyakarta. Dua saudara seperguruan itu ternyata memiliki keistimewaan yang berbeda. Yudo mewarisi pengetahuan Islam dan puncak ilmu kesaktian, sedangkan Diponegoro lebih menguasai ilmu kepemimpinan, ilmu hukum, tarikh Islam dan filsafat secara mendalam. Yudo, nantinya menjadi Bupati Pamajegan di Gagatan, bergelar Tumenggung Prawirodigdoyo. Walaupun daerahnya termasuk wilayah Surakarta, namun dia berjuang di pihak Diponegoro hingga gugur dalam peperangan. Jenasah Syekh Kaliko dan Tumenggung Prawirodigdoyo dimakamkan di Blunyah Gedhe, di sebelah utara Jogyakarta (Suwarno Adinoto, 1985:12-14).

Menurut cerita, Raden Tumenggung Prawirodidoyo memiliki pasukan sejumlah 6000 orang dengan bersenjatakan tombak, pedang, bandil dan empat buah pucuk meriam dan memiliki sebuah pusaka yang berupa sebuah kentongan pemberian dari Kyai Gunung Merbabu dengan khasiat apabila dipukul satu kali dapat terdengar diseluruh Kabupaten, rakyat yang mendengarnya akan siap siaga dan apabila dipukul dua kali maka bagi yang tidur akan bangun semua dan siap siaga dan yang takut menjadi pemberani, jika dipukul tiga kali, semuanya akan berangkat ke Gagatan dengan senjata lengkap. Hal tersebut ternyata diketahui oleh pihak Belanda dan ditulis dalam buku De Java Oorlog jilid I halaman 362.

Kegigihan Raden Tumenggung Prawirodidoyo dan I.S.K.S Pakubuwono VI dalam menumpas Belanda digambarkan sebagai seorang yang naik kuda yang baru ditangkap dari hutan dan terus dinaiki sampai di kancah peperangan, sedangkan I.S.K.S Pakubuwono VI digambarkan sebagai seekor harimau buas yang ditusuk-tusuk oleh tombak. 

R.T. Prawirodigdoyo didampingi oleh Kyai singomanjat Imam Rozi, Kyai Singolodra Umar Sidig dan Kyai Suhodo Som dan Kyai Singoyudo pada tahun 1827 mengadakan peperangan di Desa Klengkong dan pihak belanda yang waktu itu dipimpin oleh Mayor Has, Kapten Win dan Regel dan senopati dari Mataram antara lain B.P.H Urdaningrat, B.P.H Hadiwinoto, B.P.H. Hadiwijoyo dan R.T Nitinegoro bertempur dengan hebatnya, terlihat bahwa kekuatan kedua kubu seimbang dan seorang dari prajurit yang ada di Klengkong yang berpakaian celana bludru biru dengan baju tretes dengan srempang kuning emas besar dan bertopi bundar besar (songkok) yang tidak lain adalah telah terjatuh dari kudanya setelah terkena peluru meriam, namun masih dapat diselamatkan oleh para prajurit dan dibawa ke Desa Kedung Gubah dan dirawat oleh R.A. Sumirah selama 15 hari dan tepatnya sampai pada malam Jumat Pon tanggal 30 Nopember 1827 gugur karena luka dalam yang dideritanya. sebelum meninggal Raden Tumenggung Prawirodidoyo berpesan agar nanti jasadnya dimakamkan di dekat makam gurunya Seh Kalikojipang di makam Blunyah Gede dan saat nanti agar Pangeran Diponegoro serta senopati-senopati yang ada supaya lebih berhati-hati sebab sekembalinya setelah berpesan demikian Raden Tumenggung Prawirodidoyo menghembuskan nafas terahir disaksikan oleh Pangeran Diponegoro, Kyai Mojo, dan R.A. Sumirah dan seperti pesan terahir yang disampaikan Raden Tumenggung Prawirodidoyo dimakamkan di Makam Bluyah Gede.

1 komentar:

  1. Saya tertarik dengan gambar Prawirodigdoyo, Sr. karena saya rasanya pernah melihat lukisan seperti itu dirumah mbah kakung. Memang waktu itu mbah kakung (almarhum) sempat cerita bahwa beliau masuk trah KRT Prawirodigdoyo karena beliau adalah salah satu cucu dari Demang Gitosantoso, tanpa menjelaskan lebih lanjut bagaimana hubungan Demang Gitosantoso dengan KRT Prawirodigdoyo, sr. Karena kebetulan ketemu dengan blog ini, mungkin Prawirodigdoyo jr dapat memberi sedikit pencerahan apakah benar Demang Gitosantoso yang berdiam disekitaran Boyolali itu termasuk cucu atau cicit dari KRT Prawirodigdoyo, sr. Juga apakah ada semacam administrator yang memelihara buku yang mengadministrasikan secara relatif lengkap para turunan KRT Prawirodigdoyo, sr. Kalo tidak keberatan mohon hubungi saya, Permadi Buntoro, melalui email di perbun@yahoo.com. Maturnuwun

    BalasHapus