detiknews, bbcnews, cnn

Rabu, 21 April 2010

KARTINI... BUKAN SEKEDAR WANITA DAN “EMANSIPASI”NYA


Kodrat
Wanita itu, secara kodrati tidaklah sama dengan pria, dikarenakan Tuhan YME telah menciptakan wanita dan pria dengan kewajiban biologis yang berbeda. Meski dipaksakan sekalipun, kaum pria mustahil melakukan kodrati biologis wanita, seperti menstruasi, pregnasi, laktasi (datang bulan, mengandung, melahirkan, sampai menyusui).
Mempersoalkan persamaan hak jender, berikut derajat antara wanita dengan pria, adalah kekeliruan yang merugikan, apabila mengabaikan aspek kodrati tersebut. Sedangkan, kodrat wanita lainnya yang sudah dipersepsikan sejak lama, yaitu menikah, mengurus keperluan suami, melahirkan anak, merawat dan menjaganya hingga dewasa. Meskipun dalam hal ini sering diartikan sebagai kebahagiaan alamiah, namun di lain pihak diartikan pula sebagai bentuk pengekangan yang mengakibatkan wanita tidak bisa bebas bergerak, terlebih menentukan nasibnya sendiri.

Meskipun demikian, sudah sepantasnya emansipasi wanita yang memberikan dukungan kepada wanita untuk bebas bergerak, harapannya tidak untuk melupakan potensi kebahagiaan alamiah dan aspek kodrati kaum wanita. Secara substansi, ini menjadikan hidup berjalan melalui porsinya masing-masing, dan emansipasi dalam hal ini menjadi rambu-rambu berlangsungnya aspek sinergitas antara kaum wanita dan pria di berbagai aspek kehidupan.
Tidaklah cukup
Cara pandang tentang emansipasi, meskipun dikemudian hari dapat memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada wanita, baik di sektor publik maupun domestik, tanpa didasari keinginan untuk mengelolanya dengan benar, sudah jelas tetap akan berdampak pada bias dan jurang kepentingan gender. Artinya, claim sectoral secara potensial selalu akan dimenangkan oleh siapapun yang mampu melakukan dominasi, dan dominasi inilah yang akan berujung pada eksploitasi. Oleh karena itu, peran para wanita dalam hal ini setidaknya bukan dikarenakan dampak eksploitasi dari dominasi sektoral tersebut.
Emansipasi yang dihadirkan oleh seorang sosok Kartini tersebut, alangkah mulianya apabila kita pandang dari sudut pandang pengakuan persamaan derajad dan hak semata, patut kita kritisi, bahwasanya pengakuan itu akan berbanding lurus pula dengan konstribusi yang kita berikan. Jadi, para wanita kita berkontribusilah sebanyaknya dan untuk kalangan seluasnya, apapun dan siapapun wanita itu.
Dengan adanya saling berkonstribusi antara wanita dan pria, di berbagai sektor, akan meminimalkan celah-celah jurang dominasi. Ketiadaan dominasi tersebut, memudahkan pendekatan yang saling konstibutif dalam menghasilkan kerjasama dalam mencapai tujuan bersama, di luar saling menjaga fungsi reproduksional manusia untuk beregenarasi dan tidak punah, kembali pada sektor publik dan domestik.
Makna “saling berkontribusi” dalam hal ini, apabila diumpamakan sebagai simbiosa akan bermakna mutualisma, karena tidaklah perlu kita pungkiri lagi, segala cita-cita untuk sampai pada tujuannya tetap saja tak dapat dilakukan seorang diri dengan cara yang sendiri-sendiri. Sedemikian perlunya, mengingat dimensi kehidupan syarat akan kebutuhan-kebutuhan yang mutlak untuk dipenuhi.
Bukan komoditas
Emansipasi wanita kerap disalah artikan di antara kita, dengan mengejar karir setinggi langit, kesetaraan jender yang kebablasan, bahkan dengan mengorbankan kodratnya sebagai perempuan. Perlu dicatat, sesungguhnya apa yang diperoleh dari itu semua terlebih mengorbankan kodratnya sebagai perempuan adalah kekalahan terbesar bagi perempuan.
Di sisi yang lain, emansipasi wanita yang sudah dibakukan, dalam artian secara kolektif sudah bisa diterima dan disepakati, tentunya tinggal memformulasikan tata caranya secara jibaku. Bukan sebaliknya, cenderung sebagai bahan komoditas jender, ekonomis, politik dan ideologis. Oleh karena itu, baik wanita maupun emansipasinya, dapat secara langsung memberikan kontribusi yang ideal di berbagai sektor kehidupan.
Berikutnya, setelah sekian lama kita peroleh informasi awal tentang emansipasi yang diusung oleh Kartini, sudah sepantasnya apabila informasi itu bisa menjadi inspirasi untuk kita semua dalam berimprovisasi di setiap aksi kehidupan. Sebagaimana dalam falsafah Jawa, bahwa seyogyanya kita senantiasa niteni, niroake dan ngembangake setiap sikap, pola pikir dan perilaku. Dengan demikian, sepertinya kita tidak perlu lagi saling menunggu dalam hal ini, karena secara umum dapat dilakukan dengan banyak cara, dan sudah terlalu naif jika masih bersifat komoditas.
Jadi, demi mendapatkan makna emansipasi yang sebenarnya, diharapkan tidak didasari atas kekritisan yang naif, karena hal mendasar pada emansipasi wanita itu bermula dari perjuangan kaum wanita demi terpenuhinya hak memilih dan menentukan nasibnya sendiri. Dengan mempraktisi emansipasi wanita dengan benar, merupakan kontribusi yang besar dalam memanusiakan manusia (dehumanisasi), dengan cara untuk lebih “mewanitakan wanita”.
Untuk siapa?
RA. Kartini, secara kolektif memori kita telah terpatri pada sosok pejuang emansipasi wanita. Betapapun wanita ini, dengan segala daya dan upayanya menggugat keadaan, dan memperjuangkan keyakinannya tentang sebuah kedaulatan hidup bagi kaumnya, wanita. Habis gelap terbitlah terang, itulah yang dapat kita rasakan sekarang, ketika Kartini kita ini telah memastikan dunia kita berputar pada tempat yang benar.
Kemampuan intelektualnya yang bisa dibilang jauh melampaui pada zamannya, melalui karya tulisannya, dianggap mampu membuka tabir persoalan wanita, kultur, dan situasi yang masih aktual hingga sekarang. Bisa dikatakan sosok Kartini ini muncul atas kondisi tertentu, dengan artian perlawanan atas sebuah keadaan. Mengingat pada saat itu bangsa kita sedang dikuasai oleh Belanda, dan tuntutan adat istiadat masyarakat patriarkat Jawa masih mendominasi. Namun, pandangan dan jangkauan yang jauh ke depan menjadikan wanita ini menjadi mulia di mata kaum dan bangsanya.
Dengan demikian, jelaslah sudah, meskipun RA. Kartini memperjuangkan emansipasi wanita, dengan berputarnya dunia pada tempat yang benar, kiranya manfaat tersebut tidak hanya kaum wanita saja yang merasakan, namun berturut pula kaum pria, generasi muda dan tua, dalam berbagai kehidupan keluarga, masyarakat, bangsa dan negara, termasuk dunia.
Pada akhirnya, sebelum makin ditelan oleh lupa, mengingat Kartini, karya dan pemikirannya adalah milik kita semua, tak ada salahnya kita merenungkan dan mengapresiasi kembali pemikiran-pemikiran Kartini yang terangkum lewat surat-surat dan tulisan-tulisannya yang mampu mengguncang dunia itu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar