detiknews, bbcnews, cnn

Selasa, 17 November 2009

MASA DEPAN VS KONSEKUENSI HIDUP

Masa Depan
Masa depan merupakan suatu masa dimana status akan jarak, ruang dan waktu, berikut momentum dan aktifitas gerak yang ada belum terdeteksi secara kasat mata. Masa depan secara harfiah bertebaran mimpi dan harapan, dari bergelintir-gelintir individu, kelompok maupun golongan. Secara faktual, apa yang kita sebut sebagai harapan melalui beberapa proses tertentu untuk membuatnya menjadi sebuah kenyataan, dengan indikator dan variabel yang tidak terbatas.

Dunia yang kita huni sekarang mengalami pertumbuhan dan perkembangan, berikut pasang surutnya, diawali dari mimpi dan harapan. Tanpa mimpi dan harapan, mustahil seseorang akan memiliki fantasi ataupun imaginasi di alam berpikir dan alam bawah sadar seseorang tersebut. Tanpa semua itu tidak akan pernah ada ide tentang ilmu pengetahuan dan kemajuan; tanpa itu pula tak akan pernah muncul pertentangan ideologi yang saling ingin “menang sendiri”.

Kenyataan dari potensi “ego” manusia, bahwa seorang manusia tidak menginginkan manusia yang lain dapat menang atas dirinya, terlebih potensi tersebut dilakukan secara communal di masyarakat yang serba plural. Tak mengherankan jika dunia ini secara keseluruhan tidak akan pernah mengenyam hal yang biasa kita sebut “peace”. Padahal perdamaian itu sendiri seringkali “didramatisir” dan “dipolitisir” sebagai alat untuk memulai sebuah peperangan, berikut “pemahaman” bahwa perang, apa pun bentuk dan turunannya, merupakan konsekuensi yang tidak bisa dihindari untuk mencapai suatu maksud dan tujuan.

Memang demikianlah realita dari masa depan yang bertaburan mimpi, harapan, cita-cita, sekaligus ego manusia, semua itu akan terus berlanjut walau sampai akhir dunia. Realitas yang terjadi sekarang bukanlah serta merta terjadi begitu saja, keseluruhan terkait benang merah dari masa yang sudah lampau, “suatu bentuk perencanaan dan penataan akan masa depan dari masa sebelum sekarang”. Dengan bertambahnya jumlah manusia, keinginan yang tidak pernah ada habisnya, semakin bertambahnya kebutuhan, meningkatnya ego manusia, termasuk tantangan yang akan dihadapi selanjutnya di masa depan setelah sekarang, secara potensial akan muncul perencanaan dan penataan masa depan, seterusnya..... dan seterusnya. Fakta membuktikan tidak ada perencanaan yang bisa up to date sepanjang masa, terkecuali paham dan ideologi yang dianut oleh seseorang, itu pun tetap tidak bisa meninggalkan suatu perencanaan untuk terus exist, sampai tujuan paling “menang sendiri” seperti tersebut diatas tercapai, meski harus dilalui dengan jalan “persekutuan” atau pun “konspirasi”.

Jadi, dikemudian hari dalam masa yang akan kita sebut sebagai masa depan itu sendiri, akan tampak jelas “ ... siapa mengumpat siapa, siapa memerangi siapa, siapa mengalahkan siapa, siapa menindas siapa, siapa menghancurkan siapa, ... ?!!”, sampai berujung pada “kemenangan” yang pada hakekatnya kehancuran nurani dan kemanusiaan, akan terulang lagi, dan terus menerus terulang. 

Itulah sebab mengapa masa depan dalam hal ini disebut sebagai suatu bentuk “kehancuran”, karena demi masa depan itu sendiri memerlukan berbagai “konsekuensi”, baik yang nyata maupun tersembunyi. Seperti diulas di atas bahwa saat ini adalah masa depan dari masa lampau, sejarah telah membuktikan tentang bagaimana perjalanan suatu negara menjadi “besar” berikut musnahnya sebuah peradaban.

Huru-hara atau pun kerusuhan, ancaman bom, bencana alam, dan lain-lain yang lebih tepatnya diartikan sebagai “kedamaian yang terusik” oleh sesuatu hal ..... itulah masa depan yang sesungguhnya, kemungkinan bisa saja terjadi, dan itu belum termasuk masa depan dari proses perencanaan dan penataan manusia-manusia ”sentiment”. Bagaiamana bisa mencapai rahmatan lil ‘alamin kalau toksin paham sentimentil ini sudah sedemikian parahnya menjangkiti dunia. 

Dengan demikian, bukan berarti kita diharamkan untuk bermimpi, berharap atau pun bercita-cita untuk masa depan, tetapi justru karena mimpi, harapan dan cita-cita itulah, kita bisa berdiri tegak di muka bumi ini. Namun, untuk menjadikan masa depan sebagai indikator dan variabel yang terbatas, dalam artian mudah dan jelas untuk diprediksikan sebelumnya manusia sebagai individu sangat perlu memiliki kesadaran untuk sigap menghadapi “musuh” satu-satunya, yaitu “konsekuensi hidup”. 

Konsekuensi Hidup
Segala yang terjadi dari lahir sampai dengan mati adalah konsekuensi hidup, karena segala yang hidup pasti mati, dan pada prinsipnya hidup hanyalah menunggu mati, soal sesudah mati dimaknai menurut alam ideologi dan spiritual kita masing-masing. Hidup dan mati sebagai konsekuensi yang tidak bisa dihindari dalam kehidupan ini, beberapa diantaranya lebih menampung persoalan tentang, “..... bagaimana kita hidup, bagaimana kita mati, ..... untuk apa kita hidup, untuk apa kita mati, ..... mengapa kita hidup, mengapa kita mati, ...... dan bagaimana hidup kita nanti?!”.

Memandang hidup sebagai konsekuensi membangkitkan sebuah kesadaran kritis dalam memaknai kehidupan itu sendiri. Manusia yang sadar dengan kritis konsekuensi hidupnya akan membuatnya semakin rajin ber-“ikhtiar”, senantiasa prepare for survive, siap siaga, “eling lan waspada”. Bentuk kesadaran kritis itu pula, meningkatkan skill seseorang untuk lebih berani menentukan jalan hidup seberat apa pun resikonya, memberinya banyak kebijaksanaan untuk lebih banyak memberi ketimbang menerima, lebih berani menghadapi resiko yang “membahayakan”, dan tentu saja secara positif akan lebih banyak lagi karya-karya yang akan dihasilkan, baik ilmu pengetahuan maupun teknologi.

Di lain pihak, semakin tinggi tingkat kritisme masyarakat, justru semakin mudah untuk diadu domba, dibeli, termasuk harga diri. Saat makin tipisnya keadilan nurani dan keadilan intelektual, dengan segala sesuatu yang diukur dengan capital dan prestige, pragmatis dan kemanusiaan yang sebatas romantis (manis di bibir, lain di hati), simpati tanpa empati. Merupakan hal-hal yang bisa saja terjadi walau tak patut untuk dipuji akan seseorang yang tak memiliki kesadaran kritis akan hidup yang sarat akan konsekuensi.

Jadi, memang benar, di saat sekarang kita sebagai kawan yang duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi. Namun, konsekuensi hidup bisa lain kejadiannya, saat di masa depan bersiap-siaplah siapa pun kita, bisa jadi kita atau pun anak cucu kita saling berhadap-hadapan sebagai lawan, akibat pengaruh kepentingan-kepentingan ekonomis, politis dan ideologis. Saat itu terjadi, setidak-tidaknya, jangan biarkan seorang anak hanya “menangisi nasibnya” dan jangan biarkan pula seorang ibu “terlampau cepat kehilangan anaknya”, karena hidup yang sarat akan konsekuensi itu harus terus berlanjut.

Dari sini memang teramat sangat diperlukan pemahaman akan pengetahuan konsekuensi hidup tersebut, karena kita sama-sama tidak berharap, kelak generasi kita di masa depan merupakan generasi “fatamorgana”. Maksudnya, generasi pemimpi, tidak jelas tujuan dan jalan hidupnya, terlampau berharap pada kesenangan, tidak siap menghadapi kesulitan, pemalas, pengecut dan sebagainya. Singkatnya, pemahaman akan pengetahuan konsekuensi hidup kita sangat penting untuk menumbuhkan kesadaran kritis bahwa hidup untuk berjuang, berjuang untuk hidup, menghargai kehidupan, dan menghormati kematian.

“Masihkah kita berencana menata MASA DEPAN, bagaimana dengan KONSEKUENSI HIDUP di masa depan?!” Anda sendiri yang akan menentukannya .....

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar